بسم الله الرحمن الرحيم
Definisi secara bahasa
Jika kita pindah kepada definisi kekufuran, maka kita mulai dengan definisinya secara bahasa. Kekufuran secasa asal kata adalah menutupi sesuatu. oetani dinamai kafir, karena menutupi biji-bijian. dan malam dinamakan kafir karena ia menutupi segala sesuatu.
Firman Allah, " ... Seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani." (Al-Hadid:20)
Kufur juga berarti mengingkari nikmat, lawan dari mensyukurinya. Ibnu Jauzi berkata,"Ahli tafsir menyebutkan bahwa kufur dalam Al-Quran itu memiliki lima arti:
Pertama: Kufur Terhadap Tauhid
Termasuk dalam hal ini adalah firman Allah ta'ala
"Sesungguhnya Orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu berikan peringatan." (Al-Baqarah :6)
Kedua: Kufur Nikmat
Seperti tersebut dalam firman Allah Ta'ala
"...Dan bersyukur kepadaku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmatku)." (Al-Baqarah:152)
ketiga: Berlepas diri
firman Allah ta'ala
"...Kemudian di hari kiamat sebagian kamu mengikari sebagian yang lain." (Al-Ankabut:25)
Maksudnya: Sebagian yang lain berlepas tangan dari sebagian yang lain.
Keempat: mengingkari
seperti tersebut dalam firman Allah:
"..maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya." (Al-baqarah:89)
Kelima: Menutupi
Seperti firman Allah:
"..tanam-tanamannya mengagumkan para petani." (Al-Hadid:20)
Maksudnya, para petani menutupi biji-bijian.(Nuzhah Al-A'yun An-Nawadzir fi ilm)ibn Jauzi 2/119-120)
Definisi Secara Istilah
Ada beberapa pendapat ulama dalam masalah ini. Ibnu Taimiyah berkata, "Kufur artinya tidak beriman menurut kesepakatan kaum muslimin, baik ia meyakini keimanan itu dan mengucapkannya atau ia tidak meyakini sesuatu apapun dan tidak mengucapkannya." (Majmu Al-Fatawa 20/86)
Ia juga berkata ketika menyebut beberapa pendapat berbagai sekte dalam menafsirkan kufur:
Orang-orang berbeda pendapat dalam mendifinisikan kufur. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa kufur adalah mendustakan suatu ajaran yang sudah pasti dalam agama yang dibawa oleh Rasullullah. kemudian orang orang tersebut berbeda-beda pengetahuannya tentang ajaran yang pasti itu. Di antara mereka ada juga yang mengatakan bahwa kufur adalah tidak mengenal Allah. Di antara kelompok ini ada yang melihat ketidaktahuan tentang sifat Allah, hukumnya seperti ketidaktahuan terhadap Allah sang pemilik sifat itu, dan ada kelompok yang melihat sebaliknya. Mereka juga berbeda pendapat dalam masalah sifat-sifat Allah, baik dalam menafikan dan menetapkan. Diantara mereka ada yang tidak memberikan batasan. Mereka beranggapan, setiap yang terbukti mendustakan apa yang dibawa rasullullah berupa urusan iman kepada allah dan hari akhir, ia menyebitkan suatu kekufuran dan masih banyak pendapat yang lain.
Kekufuran selalu berkaitan dengan kerasulan nabi. Karenanya, mendustakan, membenci, mencela dan memusuhi rasul meskipun ia yakin akan kebenarannya dalam hati merupakan suatu kekufuran menurut para sahabat, dan para pengikut mereka, serta para imam terkemuka. Kecuali Jahm(pendiri jahmiyah)dan orang-orang yang mengikutinya seperti ash-shalihi, ash-asy'ari dan lainnya.(Minhaj assunnah 5/251)
Ibnu Taimiyah rahimullah juga berkata,"Kekufuran hanya terjadi dengan jalan mendustakan berita yang dibawa oleh rasulullah, atau menolak mengikutinya padahal mengetahui kebenarannya seperti kafirnya Firaun, yahudi dan lainnya." (Ad-Da'ru 1/242)
Ibnu Taimiyah juga berkata dalam kitabnya yang lain, "Keimanan yang benar mengandung pengakuan terhadap apa yang dibawa nabi. dan tanda kekufuran dapat dilihat pada sikap tidak beriman kepada rasullah. Dapat pula dilihat dari sikap tidak mengakui pemberitaan yang beliau sampaikan yang mendasari masalah ini, yaitu berita tentang Allah dan nama-namanya. Karena itu, pengingkaran terhadap apa yang terkait dalam masalah ini lebih besar dosanya dari pada mengingkari masalah lainnya, meskipun rasulullah mengabarkan tentang keduannya. Selain itu, jika seseorang semata-mata hanya membenarkan berita dari nabi, dan ia yakin akan kebenarannya, tetapi ia tidak mau taat melaksanakan perintahnya secara lahir batin dan tidak mau mengagungkan beliau, maka sikap ini tidak dinilai sebagai keimanan. (Majmu Al-fatawa 6/533-534)
Dari fatwa-fatwa yang disampaikan Ibnu Taimiyah ini, dapat disimpulkan bahwa kekufuran-yaitu lawan dari keimanan-kadang berbentuk mendustakan kebenaran dalam hati, hal mana bertentangan dengan suara hati nurani yang mengakui kebenaran. Dan, kekufuran biasa berbentuk aktivitas hati yang membenci Allah serta ayat-ayatnya, atau Rasulullah. hal ini bertentangan dengan imam di hati yang penuh cinta, suatu refleksi hati yang paling kuat dan penting. Selain itu, kekufuran bisa berupa realitas pribadi yang menyalahi perkataan lisan, dan terkadang berupa aktivitas fisik seperti berpaling dari agama Allah. Dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan Rasulnya. Hal ini sangat bertentangan dengan aktivitas fisik yang dibangun diatas ketaatan, ketundukan, dan totalitas kepada Allah.
Ibnu Hazm mendefinisikan kekufuran dengan kalimat yang singkat dan padat ia katakan kekufuran bahwa kekufuran dalam terminologi agama adalah sifat orang yang mengingkari sesuatu yang harus diimani, sesudah sesampainya hujjah(argumen)kebenaran kepadanya. Ia mengingkarinya dalam hati, tanpa lisan, atau ingkar lisannya tanpa hati, atau ingkar kedua-duanya, atau ia melakukan suatu perbuatan yang diterangkan oleh nash bahwa itu dapat mengeluarkannya dari keimanan.(Al-Ihkam 1/45.lihat Al-fashl 3/252, Al-Muhalla 13/437)
As subki berkata. "Pengkafiran adalah hukum syariat, sebabnya adalah pengikaran terhadap rububiyah, wahdaniyah, risalah, perkataan, atau perbuatan yang dihukumi oleh Allah bahwa itu kekafiran, meskipun tidak disertai pengingkaran." (Fatawa As subki 2/586)
Ibnul Qoyyim rahimullah menjelaskan tentang makna kufur bahwa kufur adalah mengingkari apa yang diketahui bahwa Rasulullah telah membawanya, baik dalam masalah-masalah yang kalian namakan ilmiah atau amaliyah. Maka siapa yang mengingkari apa yang dibawah oleh Rasulullah sesudah ia mengetahui bahwa hal itu benar-benar darinya, maka ia telah kafir dalam seluruh masalah agama, baik masalah yang kecil atau yang besar. (Mukhtashar Ash-shawaiq Al Mursalah 2/421)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar